MY INCOME.ID – Shein dan Temu, dua pemain e-commerce yang berbasis di Tiongkok, telah mengguncang pasar Amerika Serikat dengan pendekatan inovatif mereka.
Shein mulai hadir di pasar Amerika Serikat pada 2012, fokus pada fast fashion dengan menawarkan ribuan produk baru setiap hari.
Sementara itu, Temu, bagian dari perusahaan induk Pinduoduo, baru meluncur pada September 2022 tetapi langsung mencuri perhatian dengan pendekatan marketplace yang menawarkan lebih dari 250 kategori produk.
Kecepatan mereka dalam menembus pasar membuat keduanya kini bersaing ketat dengan nama-nama besar seperti Amazon dan Walmart.
Fenomena Shein dan Temu: Menantang Para Raksasa E-Commerce
Apa yang membuat keduanya fenomenal? Tak lain adalah kombinasi strategi mereka.
Harga yang sangat terjangkau, pengalaman belanja yang menarik, dan kemampuan adaptasi terhadap kebutuhan konsumen.
Shein dikenal dengan sistem produksi yang sangat efisien melalui jaringan pabrik yang luas, sementara Temu menyediakan platform bagi usaha kecil untuk menjangkau pasar global.
Kesuksesan ini tercermin dari popularitas mereka sebagai aplikasi belanja teratas di Amerika Serikat, yang menyaingi bahkan para raksasa lama e-commerce.
Bagi para pelaku bisnis multilevel marketing (MLM), network marketing, dan direct selling di Indonesia, fenomena ini lebih dari sekadar persaingan e-commerce.
Ada pelajaran penting yang dapat diambil untuk tetap relevan dan kompetitif di era digital ini.
Mengintegrasikan Program Afiliasi sebagai Strategi Kekinian
Salah satu kesuksesan besar Shein dan Temu adalah program afiliasi mereka.
Shein memberikan peluang bagi digital marketer dan influencer untuk mendapatkan komisi 10 hingga 20 persen melalui link afiliasi, sementara Temu menawarkan insentif hingga USD 20.000 per bulan bagi influencer yang mempromosikan produk mereka.
Untuk para pelaku industri MLM, ini adalah momen untuk mengadopsi pendekatan serupa. Memanfaatkan media sosial sebagai platform pemasaran dan membuka peluang afiliasi berbasis komisi dapat menarik generasi muda yang melek teknologi.
Ini juga dapat menjadi jalan baru untuk memperluas jaringan tanpa harus mengandalkan cara konvensional seperti pertemuan tatap muka.
Gamifikasi: Membuat Pengalaman Belanja Jadi Hiburan
Shein dan Temu juga berhasil memikat konsumen, khususnya Gen Z, melalui elemen gamifikasi.
Mereka menciptakan pengalaman belanja yang interaktif dan menyenangkan, seperti kuis mode, permainan spin-the-wheel untuk mendapatkan diskon, hingga pengumpulan poin untuk hadiah.
Bagi industri berbasis jaringan, gamifikasi bisa menjadi kunci untuk meningkatkan keterlibatan dan retensi konsumen.
Bayangkan aplikasi direct selling dengan fitur mini-games yang memberikan poin untuk setiap pembelian atau undangan ke anggota baru. Tidak hanya menghibur, tetapi juga menciptakan loyalitas pelanggan.
Kecepatan dan Kelincahan: Menjawab Kebutuhan Pasar
Shein dan Temu dikenal karena kecepatan mereka dalam merespons tren pasar.
Shein, misalnya, menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengembangkan produk baru dan memastikan pasokan yang cepat dari ratusan pabrik mitra.
Temu, di sisi lain, menyediakan platform bagi usaha kecil untuk menjual produk di lebih dari 250 kategori.
Bisnis MLM dapat belajar dari strategi ini dengan meningkatkan efisiensi supply chain dan mendiversifikasi produk.
Dengan analisis data yang cermat, perusahaan dapat menghadirkan produk yang benar-benar dibutuhkan pasar.
Selain itu, menjalin kerja sama dengan produsen lokal dapat memperluas jangkauan sekaligus memperkuat citra merek.
Menyasar Generasi Muda: Kunci Kelangsungan Bisnis
Shein dan Temu secara strategis menyasar Gen Z, yang dikenal sebagai generasi digital native.
Mereka menggunakan media sosial, influencer, dan personalisasi pengalaman untuk menarik perhatian kelompok ini.
Bagi pelaku MLM di Indonesia, pendekatan serupa bisa diterapkan. Fokus pada rekrutmen dan pelibatan Gen Z melalui pelatihan online, webinar interaktif, dan kolaborasi dengan influencer lokal dapat menjadi strategi yang efektif.
Generasi muda tidak hanya memiliki potensi sebagai konsumen tetapi juga sebagai mitra yang aktif dalam memasarkan produk.
Adaptasi adalah Kunci di Era Digital
Keberhasilan Shein dan Temu menunjukkan bahwa adaptasi terhadap teknologi dan perilaku konsumen adalah kunci untuk tetap kompetitif.
Bisnis MLM di Indonesia harus lebih gesit dalam memanfaatkan peluang digital. Program afiliasi, gamifikasi, analisis data, dan pendekatan yang berfokus pada generasi muda adalah beberapa langkah yang dapat diambil.
Persaingan di era digital memang semakin ketat, tetapi dengan mengadopsi inovasi seperti yang dilakukan oleh Shein dan Temu, pelaku bisnis MLM dapat membuka peluang baru dan tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Saatnya menembus batas-batas tradisional dan bertransformasi untuk masa depan yang semakin menantang. [SDJ]